Saturday, July 08, 2006

BAB II


Fatamorgana

Malam terus saja menutupkan tirai gulitanya
ke hamparan dunia
Mencoba mengistirahatkan jiwa-jiwa yang lelah
Senyum rembulan membelai mesra amarah anak manusia
Kedipan lembut gemintang menentramkan
mereka yang gelisah

Mereka kecewa, ketika keserakahan menguasai malam
Keangkuhan meraja, angkara murka membara
Nafsu manusia menguasai dunia

Malam tiada pernah menyerah
Terus saja membasuh kasih sayang ke haribaan manusia
Rembulan setia menemani geliat mereka
Gemintang mendendangkan nyanyian pilu kehidupan

Semenjak keduanya tiada berbeda
Benderang siang dan gulita malam semakin terluka
Kepuasan dan kesenangan menjadi Tuhan
Anak manusia lupa
Hidup ini fatamorgana
Semuanya fana

(19 Juni 2006, 20:16)

BAB I




Sejarah yang Mungkin Tidak Pernah Tercipta

Teman, waktu semakin merentang
menghadang pertemuan kita
Mengusik sedikit kerinduan yang terisolasi
Menipiskan lembar harapan perjumpaan
Walaupun tuk sekadar saling tersenyum
dan bertatap mata

Terakhir kali itu terjadi 2 tahun yang lalu
Perjumpaan tak terduga yang selalu kukenang

Asaku tak lebih banyak dari segenggam pasir
Tak lebih terang dari redupnya lilin
Hanya ingin melihat cahaya matamu
Membalas senyummu
Kemudian meyakini diriku sendiri
Bahwa kau, temanku, baik-baik saja

Sekarang, ketika waktu merentang semakin panjang
Menjauhkan asa yang tak lebih dari segenggam pasir itu
Semakin jauh dan menjauh
Sampai batas yang tidak seorang pun tahu

Teman, ku ingin kau tahu
Ada kerinduan yang tak ingin kurasakan
Karena kutahu,
Semakin kerinduan itu datang
Semakin ku menyadari diriku bersimpati
Padamu, teman


(Awal 2006, aku lupa tepatnya kapan. Kutulis untuk seseorang yang tanpa diminta memberiku petunjuk jalan menuju kampus. Waktu itu aku baru menyandang status mahasiswa baru. Empat tahun kemudian aku baru berkomunikasi lagi dengannya. Sekarang,..... ???)